5 Cara Ampuh Atasi Scar Bekas Jerawat

Rasanya kurang percaya diri jika pada wajah timbul scar bekas jerawat. Apalagi jika scar tersebut berbentuk legokan ke dalam sehingga wajah terlihat bopeng atau bolong-bolong. Mengapa scar bekas jerawat bisa timbul? Bekas jerawat atau scar terbentuk karena adanya peradangan sehingga setiap jerawat yang muncul berpotensi menimbulkan scar.

Scar muncul karena penanganan jerawat yang kurang tepat. Jika jerawat atau peradangannya didiamkan, maka bisa menimbulkan scar. Karena itu, jika timbul jerawat sebaiknya segera diatasi. Jangan biarkan jerawat menjadi jerawat batu, bernanah dan infeksi serta terasa nyeri ketika ditekan. Terutama jerawat yang buntu, lalu ingin dikeluarkan isinya bisa berpotensi timbulnya scar.

Jika sudah timbul scar, sebaiknya segera diatasi. Mengatasi scar disesuaikan dengan jenis scar-nya, yakni scar hipertrofik dan scar atrofik seperti ice pick. Scar jenis atrofik, yang ada legokan ke dalam, lebih sulit diatasi daripada jenis scar yang hipertrofik atau scar yang timbul. Untuk mengatasi scar tidak bisa menggunakan salep ataupun krim, tetapi menggunakan tindakan lain yang menggunakan cairan kimia hingga laser.

Namun perlu diingat scar tidak bisa hilang 100 persen karena sudah ada masalah pada kontur kulit. Biasanya scar dapat berkurang 70-80 persen. Sebab itu, mencegah timbulnya scar lebih baik daripada mengobati scar. Jika ada jerawat segera diobati menggunakan krim atau suntik jerawat sehingga jerawatnya tidak bernanah atau jerawat batu. Untuk mencegah timbulnya jerawat rawatlah wajah dengan baik dan teratur. Penggunaan cream wajah yang baik seperti Cream Anisa juga membantu merawat wajah agar terhindari dari jerawat.

Berikut 5 cara ampuh mengatasi scar bekas jerawat :
1. Suntik
Treatment Suntik seringkali menjadi pilihan untuk mengatasi scar. Namun treatment ini digunakan untuk scar tipe hipertrofik yakni scar yang muncul di permukaan. Bahan yang disuntikkan adalah kortikos steroid.
2. Mengoleskan Cairan Kimia
Mengatasi scar bekas jerawat yang ada legokan, bisa dilakukan dengan mengoleskan cairan kimia Trechloroacetic Acid (TCA). Cara ini seperti chemical peeling namun konsentrasi cairan kimia untuk mengatasi scar ini tinggi yakni 35 persen. Tujuannya adalah merangsang kolagenisasi di daerah yang ada scar-nya sehingga legokan scar ditarik ke atas. Efek samping yang bisa timbul adalah hiperpigmentasi pasa inflamasi. Setelah pengerjaan timbul masa downtime seperti kulit kemerahan dan bengkak selama 3-5 hari.
3. Subsisi
Adalah tindakan untuk mematahkan jaringan ikat yang ada di bawah kulit. Tindakan ini digunakan untuk scar tipe ice pick, yakni scar yang berupa legokan kecil atau bolong-bolong kecil yang timbul karena pada saat proses penyembuhan luka terdapat jaringan ikat yang membuat legok. Dengan tindakan subsisi yang memakai jarum khusus ini maka jaringan ikat tadi dipatahkan.
4. Laser Fraxional
Biasanya digunakan untuk scar tipe atrofik yang legokannya sangat dalam. Tindakan ini bersifat ablatif atau merusak kulit sehingga setelah treatment akan timbul masa downtime dimana kulit terlihat jelek, kemerahan, bengkak dan timbul luka-luka kecil di kulit yang sengaja dibuat seehingga kolagen dan kulit barunya terbentuk. Biasanya downtime berlangsung 2 minggu. Namun, dalam waktu sebulan hasilnya sudah mulai terlihat bagus.
5. Dermaroller
Tindakan ini menggunakan jarum kecil. Seperti halnya laser fraxional, dermaroller memiliki efek menstimulasi kolagen. Namun bila laser memiliki efek panas sehingga hasil menstimulasi kolagen lebih cepat, pada dermaroller hanya membuat luka kecil sehingga hasilnya lebih lama.

This entry was posted on November 21, 2017. Bookmark the permalink.